Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kesuburan tanah sangat perlu diperhatikan mengingat tanah berperan penting dalam penyediaan nutrisi tanaman.  Namun, ketersediaan lahan yang subur bagi tanaman kian menipis akibat peningkatan laju degradasi sumberdaya lahan, sehingga petani dituntut untuk menggunakan lahan yang kurang subur (marginal) seperti lahan masam. Lahan masam di Indonesia tercatat seluas 108,8 juta atau berkisar 76% dari total luas lahan kering (143 juta ha) (1). Tanah masam yang umumnya mempunyai nilai pH rendah (<pH 5) menimbulkan efek negatif bagi pertumbuhan tanaman yang disebabkan oleh tingginya konsentrasi unsur toksik Al, Fe, dan Mn bagi tanaman (2). Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pH tanah ialah pemberian biochar sebagai perbaikan tanahguna meningkatkan pertumbuhan serta hasil panen produksi tanaman.

Biochar (bio arang) adalah bahan kaya karbon hasil pembakaran yang berasal dari limbah organik. Biochar dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah (amelioran) diantaranya mampu meningkatkan pH tanah masam melalui sifat alkalinitasnya. Pembakaran biochar dilakukan secara pyrolysis pada sebuah wadah atau tungku yang didesain sedemikian rupa agar menciptakan pembakaran tidak sempurna dimana oksigen di udara tidak ikut serta dalam reaksi pembakaran. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) di Kabupaten Pati memiliki alat berupa tungku pembakaran yang mampu membakar biomassa mencapai 20 – 30 kg biomassa limbah pertanian setiap pembakaran. Tungku pembakaran biochar Balingtan mampu menghasilkan biochar dalam waktu 24 jam sebanyak 20 – 25% dari total berat bahan mentah tergantung dari bahan yang digunakan. Tungku tersebut memiliki produk sampingan berupa asap cair yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biopestisida dan kosmetika.Bahan mentah yang digunakan dalam pembuatan biochar berupa limbah pertanian antara lain tongkol jagung, sekam padi, dan tempurung kelapa. Bahan-bahan tersebut dipilih karena ketersediaannya melimpah serta terjangkau khususnya bagi para petani.

Prosedur pembuatan biochar diawali dengan penyortiran bahan mentah dari kotoran kerikil dan dedaunan.  Tutup tungku dilapisi tanah liat guna memastikan wadah agar dalam kondisi kedap udara. Bahan bakar yang digunakan dalam pembuatan biochar adalah biogas yang berasal dari kotoran sapi dalam biodigester. Pembakaran tempurung kelapa dan tongkol jagung dilakukan dengan tungku yang ditutup rapat guna menurunkan ketersediaan oksigen selama pembakaran pada suhu berkisar 250 – 350°C selama 24 jam. Pembakaran sekam padi secara khusus dilakukan dengan menggunakan besi yang berbentuk tabung dimana terdapat rongga-rongga pada permukaan tabung selama 12 jam. Setelah bahan berwarna hitam menyeluruh, biochar hasil pembakaran diberi air hinggasuhu biochar menurun. Selanjutnya, hasil biochar dijemur hingga kering dan dihaluskan dengan mesin penggiling.Biochar siap diaplikasikan ke dalam tanah, baik diberikan secara langsung atau dikombinasikan dengan kompos.

 

 

Tungku Pembakaran Biochar

Sekam Padi

Proses Pembakaran Biochar

Sekam Padi

Hasil Pembakaran Biochar

Sekam Padi

 

 Tungku Pembakaran Biochar Balingtan

 Hasil Pembakaran Biochar

Tempurung Kelapa

Proses Penggilingan Biochar

Tempurung Kelapa

  

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Inventarisasi GRK merupakan upaya untuk mendapatkan data dan informasi mengenai tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi GRK secara berkala dari berbagai sumber emisi (source) dan penyerapnya (sink), termasuk simpanan karbon (carbon stock).

Ada beberapa kegiatan dalam sektor pertanian yang menjadi sumber Gas Rumah Kaca yaitu emisi gas dari lahan sawah, sendawa ternak, pengelolaan kotoran ternak, penggunaan kapur pertanian, pemupukan urea, pembakaran lahan, perubahan penggunaan lahan serta emisi dari lahan gambut.

Dalam melakukan inventarisasi GRK ditemui banyak kendala diantaranya kesulitan dalam pengumpulan data untuk perhitungan serta perhitungan inventraisasai GRK bagi instansi tekait di luar kementerian pertanian.

Kegiatan FGD Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian tanggal 28 Februari sampai dengan 2 Maret 2019 yang di hadiri oleh Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Balai Tanah, Balai Penelitian Lahan Rawa, Balai Penelitian Ternak serta Biro Perencanaan Kementerian Pertanian. Dalam kegiatan tersebut dirumuskan penggunaan perhitungan yang disederhanakan/dikelompokkan menggunakan IPCC Guidelines sehingga lebih familiar bagi instansi lain yang berkaitan dengan inventarisasi GRK sektor pertanian. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Jika kita mengamati sisi kanan dari rumah kasa Balingtan, tampak berdiri sebuah papan bertuliskan “Taman Fito Koleksi Tanaman Akumulator Logam Berat untuk Fitoremidiasi”. Di sinilah letak Taman Fito yang merupakan taman pengoleksi tanaman penyerap logam berat baik di udara, maupun di dalam tanah.

Kata “Fito” sendiri diambil dari istilah Fitoremidiasi. Yang mana fitoremidiasi merupakan bioremediasi melalui penggunaan tanaman yang dapat mengurangi masalah lingkungan tanpa perlu menggali bahan kontaminan dan membuangnya di tempat lain. Dalam hal ini, tanaman-tanaman di Taman Fito memiliki kemampuan menjadi tanaman yang nantinya dapat digunakan untuk remidiasi tanah tercemar logam berat.

Jenis tanaman di taman ini beraneka ragam, mulai dari lidah mertua, melati air, bambu air, sambang dara, haramay, akar wangi, dan masih banyak lagi. Tanaman-tanaman tersebut didapatkan dari hasil tanaman yang telah diujikan di rumah kasa dan Lysimeter, maupun hasil dari berbagai sumber referensi. “Tanaman yang pernah diujikan di Balingtan dan hasilnya bagus untuk fitoremidiasi itu seperti tanaman mendo, haramay, dan lilia” ujar Ketua Kelompok Peneliti Evaluasi dan Penanggulangan Pencemaran Pertanian (Kelti EP3), E. Srihayu Harsanti (Etik) saat ditemui di Laboratorium Terpadu Balingtan, Selasa (6/11).

Aneka koleksi tanaman tersebut tentu saja memiliki fungsi berbeda-beda dalam menyerap logam berat. Haramay misal, tanaman bernama latin Bohmeria nivea ini mampu menyerap logam berat jenis timbal (Pb) dan kadmium (Cd). Bambu air (Equisetum hyemale) mampu menyerap timbal, kadmium, serta kromium (Cr). Lidah mertua (Sansevieria sp) mampu menyerap polutan udara, akar wangi (Vetiveria zizanioides) yang memiliki kemampuan untuk menyerap raksa (Hg), tembaga (Cu), dan seng (Zn), dan masih lagi.

Dulu, keberadaan tanaman-tanaman penyerap logam berat ini hanya ditempatkan di sebuah petakan kecil. “Kita pernah buat berupa petakan biasa dan tidak sebanyak itu. Masih berupa petak kecil-kecil, tidak seperti sekarang yang cukup luas dan akhirnya dikenal menjadi Taman Fito itu” pungkas Etik. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Air yang berasal dari sungai, sawah, danau yang mengalir ke badan sungai yang nantinya akan digunakan untuk air irigasi dimungkinkan mengandung cemaran logam berat maupun residu pestisida.

Air irigasi tersebut biasanya terkontaminasi cemaran logam berat dan residu pestisida akibat dari limbah industri dan pestisida di lahan pertanian intensif. Kandungan residu pestisida pada saluran outlet, selanjutnya akan masuk ke dalam aliran sungai dan akan membahayakan lingkungan biota air dan kesehatan manusia. Oleh karena itu diperlukan teknologi penyaringan air sebelum dan sesudah masuk area persawahan.

Filtrasi air sangat penting untuk semua sistem irigasi. Untuk menghasilkan kualitas air yang lebih baik, dapat saja digunakan dua filter yaitu inlet outlet. Filter pertama, berfungsi sebagai penyaring pertama yang bisa menyaring racun-racun yang terbawa oleh air misalnya logam berat dan residu pestisida. Filter kedua berfungsi untuk penyaringan oulet yang dipasang di outlet persawahan.

Balingtan mengembangkan teknologi berupa alat penyaring air yang biasa disebut dengan Filter irigasi Inlet Outlet (FIO). Alat yang sangat sederhana dan mudah dibuat sendiri dengan biaya yang relatif murah.  FIO terbuat dari bak plastik dengan dengan ukuran sesuai kebutuhan (diameter jaringan irigasi) dan mempunyai penyaring berbrentuk silinder sejumlah 12 buah dan dipasang secara zig-zag untuk ukuran. Penyaring terbuat dari kasa alumunium yang nantinya akan diisi arang aktif berasal dari limbah pertanian yang berbentuk butiran dan bisa diisi ulang dengan sistem bongkar pasang. Filter ini mampu menjerab jenis residu insektisida organoklorin (DDT, lindan, dieldrin, endrin, heptklor, endosulfan), organofosfat (klorpirifos, profenofos, diazinon), karbamat (karbofuran) di saluran air. (Admin Balingtan)

Penilaian: 2 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Litbang Balingtan) tengah melakukan Kerjasama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembanagan Pertanian Strategis (K4PS). Bertempat di Laboratorium Gas Rumah Kaca, kali ini Balingtan menggunakan pemanfaatan gulma Babandotan (Ageratum conizoides) untuk bahan pelapis pada pupuk lambat urai (SRF) guna mengingatkan efisiensi pupuk nitrogen (N), meningkatkan produktivitas padi dan jagung serta menekan emisi gas N2O.

“Awalnya peneliti memiliki produk bahan NI (Nitrification Inhibitor), bahannya dari gulma babandotan. Dan hasil lab-nya menunjukkan dia (Red, gulma babandotan) bisa menekan emisi gas N2O, diaplikasikan untuk melapisi urea supaya urea supaya menjadi lambat urai, sehingga  potensi mengemisi N2O berkurang,” Teknisi Penelitian Bu Titik memaparkan (11/10).

Hal ini terjadi karena pelapisan pupuk N dengan gulma babandotan tersebut berfungsi meningkatkan serapan N oleh tanaman dan menurunkan kehilangan pupuk N. Selain itu, penggunaan Ageratum conizoides sebagai pelapis alami pupuk lampat urai (SRF) juga dapat berfungsi sebagai penghambat nitrifikasi karena kandungan polifenolnya yang bersifat anti-bakteri.

Penggunaan SRF dari Babandotan nantinya akan meningkatkan 16% efisiensi pupuk N, meningkatkan 17% hasil produksi dan menekan 25% emisi N2O dibandingkan penggunaan pupuk urea. Hal ini tentu saja sejalan dengan tujuan utama dari penggunaan urea berlapis babandotan untuk menekan emisi N2O dan meningkatkan hasil. “Dari padi, penelitian sebelumnya hasilnya menekan emisi dan meningkatkan hasil. Misal kita ambil contoh produk rata-rata padi per hektar hasilnya 5 ton, dengan dilapisi itu (pupuk N berlapis babandotan) bisa di atas 5 ton,” ujarnya.

Babandotan sendiri merupakan jenis gulma yang berada di lahan kering. “Gulma babandotan itu biasanya banyak ditemui di kebun pohon jati dan tidak dimanfaatkan, padahal sebenarnya bisa, penelitian ini misal,” pungkasnya.  Beliau juga menambahkan jika penelitian KP4S yang dipegang oleh Laboratorium Gas Rumah Kaca Balintang sendiri masih berlangsung hingga sekarang. Jika sebelumnya diaplikasikan pada tanaman padi, kali ini Balingtan mengaplikasikannya pada tanaman jagung.  (Admin Balingtan)

Halaman 1 dari 4

Medsos Facebook